5 Pilar Pendidikan by Aswan math
v
5 Pilar
Pendidikan
1. Learning To Know
Pilar
pertama ini memeliki arti bahwa para peserta didik dianjurkan untuk mencari dan
mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya, melalui pengalaman-pengalaman. Hal
ini akan dapat memicu munculnya sikap kritis dan semangat belajar peserta didik
meningkat. Learning to know selalu mengajarkan tentang arti pentingnya sebuah
pengetahuan, karena didalam learning tonow
terdapat learning how to learn, artinya peserta didik belajar untuk memahami
apa yang ada di sekitarnya, karena itu adalah proses belajar. Belajar bukan
hanya dinilai dari segi hasilnya saja, melainkan dinilai dari segi proses,
bagaimana cara anak tersebut memperoleh pengetahuan, bukan apa yang diperoleh
anak tersebut. Learning to know juga mengajarkan tentang live long of education
atau yang disebut dengan belajar sepanjang hayat. Arti pendidikan sepanjang
hayat (long life education) adalah bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu
menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Hal ini menegaskan
bahwa pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga. Sekolah
merupakan tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga,
sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Oleh karena itu,
sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan
budayanya
Bentuk implementasi dari pilar learning to know adalah ketika
dalam prosese belajar guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator,
guru juga dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi
siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa.
2. Learning To Do
Pilar kedua menekankan pentingnya interaksi
dan bertindak “di sini peserta didik diajak untuk ikut serta dalam memecahkan
permasalahan yang ada di sekitarnya melalui sebuah tindakan nyata. Belajar
untuk menerapkan ilmu yang didapat, bekerja sama dalam sebuah tim guna untuk
memecahkan masalah dalam berbagai situasi dan kondisi. Learning to do berkaitan dengan kemampuan hard skill dan
soft skill. Soft skill dan hard skill sangat penting dan dibutuhkan dalam dunia
pendidikan, karena sesungguhnya pendidikan merupakan bagian terpenting dari
proses penyiapan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, tangguh, dan
terampil dan siap untuk mengikuti tuntutan zaman. Peserta didik sebagai hasil
dari produk pendidikan memang harus dituntut memiliki kemampuan soft skill dan
hard skill.. Hard skill merupakan kemampuan yang harus menuntut fisik, artinya
hard skill memfokuskan kepada penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan
keterampilan teknis yang berhubungan dengan kemampuan peserta didik. Penguasaan
kemampuan hard skill dapat dilakukan dengan menerapkan apa yang dia dapatkan /apa yang telah
dipelajarinya di kehidupan sehari-hari, contohnya anak disekolah belajar tentang
arti penting sikap disiplin, maka untuk memahami dan mengerti tentang disiplin
itu, anak harus belajar untuk melakukan sikap disiplin, baik dirumah, disekolah
atau dimanapun. Dengan begitu anak menjadi tahu dan faham tentang pentingnya
sikap disiplin. Selanjutnya adalah soft skill, artinya keterampilan yang
menuntut intelektual. Soft skill merupakan istilah yang mengacu pada ciri-ciri
kepribadian, rahmat sosial, kemampuan berbahasa dan pengoptimalan derajat
seseorang.. Soft skill tidak diajarkan tetapi gurulah yang harus mencontohkan,
seperti sikap tanggung jawab, disiplin, dan lain sebagainya.Dengan memberikan
contoh tersebut, anak akan mencoba untuk menirukan apa yang dilihat. Hal itu
merupakan bagian dari menumbuhkan kemampuan soft skill.
Bentuk
implementasinya adalah ketika dalam proses pembelajaran setiap siswa harus dilibatkan secara aktif dalam
menyelesaikan tugas-tugas mereka. Hal ini bertujuan untuk membuat siswa
bertanggung jawab atas diri dan pendidikannya sehingga mereka akan belajar
untuk meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah
3.
Learning To Be
Pilar
ketiga artinya bahwa pentingnya mendidik dan melatih peserta didik agar menjadi
pribadi yang mandiri dan dapat mewujudkan apa yang peserta didik impikan dan
citacitakan. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan (soft skill dan hard
skill) merupakan bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be).
Menjadi diri sendiri dapat diartikan sebagai proses pemahaman terhadap
kebutuhan dan jati diri. Belajar untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma
dan kaidah yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil,
sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Learning to be sangat erat kaitannya dengan
bakat, minat, perkembangan fisik, kejiwaan anak serta kondisi lingkungannya.
Misal : bagi siswa yang agresif, akan menemukan jati dirinya bila diberi
kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Dan sebaliknya bagi siswa yang pasif,
peran guru sebagai fasilitator bertugas sebagai penunjuk arah sekaligus menjadi
mediator bagi peserta didik. Hal ini sangat diperlukan untuk menumbuh
kembangkan potensi diri peserta didik secara utuh dan maksimal. Selain itu,
pendidikan juga harus bermuara pada bagaimana peserta didik menjadi lebih
manusiawi, menjadi manusia yang berperi kemanusiaan.
Bentuk
implementasinya adalah ketika dalam proses pembelajaran guru berperan sebagai kompas penunjuk arah sekaligus menjadi
fasilitator yang sangat dibuthkan untuk menumbuhkembangkan potensi siswa secara
utuh dan maksimal. Pendidik juga harus dapat membimbing siswa belajar mengaktualisasikan
diri sebagai individu yang berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai
individu sekaligus sebagai anggota masyarakat.
4.
Learning To Live Together
Pilar
learning to live together artinya menanamkan kesadaran kepada para peserta didik
bahwa mereka adalah bagian dari kelompok masyarakat. jadi, mereka harus mampu
hidup bersama. Dengan makin beragamnya etnis di Indonesia, kita perlu
menanamkan sikap untuk dapat hidup bersama. Pada pilar keempat ini, kebiasaan
hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu
dikembangkan disekolah. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik,
sebagai hasil dari proses pembelajaran, dapat dijadikan sebagai bekal untuk
mampu berperan dalam lingkungan di mana
individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan
perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar
merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together).
Untuk itu, pembelajaran di lembaga formal dan non formal harus diarahkan pada
peningkatan kualitas dan kemampuan intelektual dan profesional serta sikap
dalam hal ini adalah kemampuan hard skill dan soft skill. Dengan kemampuan dan
sikap manusia Indonesia yang demikian maka pada gilirannya akan menjadikan
masyarakat Indonesia masyarakat yang bermartabat di mata masyarakat dunia.
Bentuk
implementasinya adalah sebagai pendidik kita harus mampu memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa hakekat
manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan, kita
juga harus mampu memberikan solusi sekaligus menyelesaikan konflik yang terjadi diantara peserta didik agar
kembali terjalin kerja sama dengan baik
5.Learning
To Believe In God
Satu
pilar lagi yang sangat penting dalam proses pembelajaran dan sistem pendidikan
adalah belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai
bentuk rasa syukur dan aplikasi dari nilai keagamaan dari setiap peserta didik.
Yang bertujuan untuk membentuk kepribadian dan karakter serta akhlak
mulia.Dalam artian ini bahwa pengetahuan yang dicari seseorang harus dapat
memberi manfaat untuk isi alam itu sendiri, dan bagaimana mengelolanya untuk
kebaikan bersama secara berkelanjutan yang secara religius dapat
dipertanggungjawabkan kepada Yang Mahakuasa.
Bentuk
implementasinya adalah dalam
pendidikan adanya pelajaran Pendidikan agama , disini peserta didik diajarkan
mengenai nilai-nilai serta kaidah-kaidah tentang agamanya. Melalui hali ini
peserta didik diajarkan bagaimana dalam bersikap serta menggunakan ilmu yang ia
miliki.
Komentar
Posting Komentar